Drs. Tahyudin Adityas Inginkan Lenong Betawi Tembus Era Millenial

WartaoneNew.com / Jakarta, 08 Okt 2019

Indonesia dikenal dengan negara yang mempunyai keanekaragaman budaya. Namun seiring berjalannya waktu, perkembangan zaman di era millenial tak bisa dipungkiri. Pelan tapi pasti menyingkirkan budaya leluhur dan daerah tak terkecuali Jakarta. Jakarta, atau yang dahulu dikenal dengan nama Betawi banyak menelurkan kesenian – kesenian yang hingga kini masih dapat kita jumpai walau sudah menyingkir. Sebut saja tanjidor, topeng betawi, ondel – ondel, palang pintu dan terakhir lenong betawi. Berbagai terobosan kerap dilakukan tokoh – tokoh betawi untuk mempertahankan kesenian dan budaya betawi. Namun sepertinya upaya tersebut laksana berjalan ditempat, hanya menonjolkan tanpa melihat perkembangan. Seorang tokoh betawi yang juga duduk sebagai wakil ketua Badan Musyawarah ( Bamus ) Betawi yakni Drs. Tahyudin Adityas mengaku miris dengan keadaan tersebut. Untuk itu dirinya dengan beberapa tokoh Betawi seperti Herman Yahya, Abdul Azis dan Bahan Bin Pitung. Hari Minggu ( 06 /10/19 ) menggelar ” Festival Lenong Betawi ” yang diikuti sekitar 10 group lenong dari berbagai wilayah di Ibukota. Drs. Tahyudin Adityas sendiri selaku ketua pelaksana mengaku, banyak group yang ingin berpartisipasi dalam festival ini. Namun dirinya memang membatasi peserta agar bisa mempelajari apa yang harus dikembangkan untuk kemajuan budaya betawi kelak. Tahyudin berkesimpulan, budaya dan kesenian betawi harus dipadukan dengan budaya di era millenium ini seperti perpaduan era kekinian dengan Lenong Denes dan lenong preman. Hal tersebut agar bisa difahami dan mengena serta diterima kalangan millenial terutama anak muda.

Semua lenong menurut Tahyudin, memiliki kesamaan dan hanya sedikit perbedaan terutama dalam bahasa dan logatnya. Sosok yang dikenal religius ini juga melihat, ada keselarasan antara lenong tradisional dengan lenong millenial. Tinggal diterapkan prototipe saja untuk mencari titik singgung. Dalam hal ini ada beberapa unsur yang harus kita pelajari. Ada transfer pengetahuan, pengalaman di antara pemain, ada pakem pakem yang disepakati, mendorong titik temu itu sehingga melahirkan sesuatu yang baru, mereka harus silat. Jadi ketika bicara tentang ideologi Betawi, jangan mereka menukar ideologinya. Dan hari ini luar biasa karena banyak animo masyarakat penggiat seni budaya ikut dalam festival ini, meski dibatasi baru 10 group yang kita hadirkan, tutup Wakil Ketua Umum Bamus Betawi, Drs. Tahyudin Adityas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *